Rabu, 15 Juni 2011

PERSEPSI SUAMI DENGAN PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI

Oleh : Joni, AMK
Masalah yang sering dihadapi oleh negara berkembang adalah masalah kependudukan, termasuk juga di Indonesia. Salah satu masalah yang di hadapi oleh Indonesia saat ini adalah laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Jika terus tidak mendapat perhatian, ancaman ledakan jumlah penduduk pada 2015 bakal benar terjadi. Indonesia belum aman dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, yang masih berada di urutan keempat jumlah penduduk dunia terbesar, setelah China, India, dan Amerika Serikat, menurut data WHO Pasangan usia subur (PUS) di Dunia yaitu sekitar 145 juta jiwa. Jumlah PUS di China berjumlah 3,5 Juta jiwayang menggunakan KB senggama terputus (Tempointeraktif, 2010). Dari beragam program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi laju pertumbuhan penduduk salah satu diantaranya adalah program Keluarga Berencana atau KB. Pengertian keluarga berencana menurut UU NO.10 Tahun 1992 adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui upaya pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan tingkat/ angka kematian bayi, ibu dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas (Arum & Sujiyatini, 2009).
Jumlah penduduk Indonesia saat ini 230 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1,40% atau sekitar 320 juta jiwa pertahunnya. Pasangan usia subur (PUS) di Indonesia yaitu sekitar 45 juta jiwa. Jumlah PUS di Sumatera Utara berjumlah 2,5 Juta jiwa. Jumlah pria yang menggunakan alat kontrasepsi di Indonesia hanya 2,7% dari total jumlah penduduk Indonesia ( BKKBN, 2007). Sedangkan jumlah pria yang aktif menggunakan alat kontrasepsi di Sumatera Utara hanya 3,15% (BKKBN, 2008). Data ini manunjukkan bahwa masih rendahnya partisipasi pria dalam menyukseskan program KB. Rendahnya pertisipasi suami dalam program KB dan penggunaan alat kontrasepsi karena kurangnya informasi dan sosialisasi tentang pengunaan kontrasepsi pada laki-laki, persepsi di masyarakat yang menganggap bahwa hanya wanita yang menjadi sasaran untuk program KB, keterbatasan metode kontrasepsi yang ada untuk laki-laki, kebijakan yang tidak mendukung seperti larangan terhadap iklan kondom yang menyebabkan terbatasnya informasi dan aksesbility alat KB dan kesehatan reproduksi bagi laki-laki, biaya yang mahal untuk melakukan Vasektomi (BKKBN, 2004) Menurut Desra (2009), dalam penelitiannya tentang persepsi suami tentang penggunaan kontrasepsi pada laki-laki mengatakan kalau dari keseluruhan responden yaitu sebanyak 65 orang, 63 orang diantaranya memiliki respon positif terhadap penggunaan kontrasepsi pada laki-laki dan 2 orang lainnya memiliki persepsi negatif, namun hal ini berbanding terbalik dengan jumlah responden yang menggunakan alat kontrasepsi pada laki-laki yaitu sebanyak 54 orang tidak menggunakan alat kontrasepsi pada laki-laki. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, bahwa partisipasi suami masih rendah dalam penggunaan alat kontrasepsi pada laki-laki sedangkan persepsi suami tentang penggunaan kontrasepsi pada laki-laki tergolong positif, maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden dengan persepsi suami tentang penggunaan alat kontrasepsi pada laki-laki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar